Kamis, 16 Mei 2013

Pulau LINGAYAN Sulawesi Tengah Pulau Kecil Terluar Indonesia


Propinsi Sulawesi Tengah memiliki 3 pulau terluar yang berbatasan langsung dengan perairan Malaysia dan Philipina yaitu Lingayan, Salando dan Dolangan. Dari ke-3 pulau tersebut hanya Lingayan yang memiliki penghuni.

Pulau ini dihuni oleh 89 KK atau sekitar 356 jiwa, dengan luas pulau ± 140,40 Ha dan panjang garis pantai ± 7,075 Km.  Penduduknya berasal dari Suku Bugis, Mandar dan Dondo yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan tangkap tradisional dan sisanya sebagai buruh kebun kelapa dalam.

Pulau ini masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Dampal Utara Kabupaten Toli-Toli Provinsi Sulawesi Tengah dengan posisi terluar dari Pulau Sulawesi (mainland) dan perairannya masuk dalam kawasan Ambalat Indonesia. 

Nama Pulau ‘Lingayan’ berasal dari kata ‘Lingian’ yang menurut bahasa setempat berarti ‘tempat persinggahan’.  Julukan ini diberikan karena Pulau Lingayan sering menjadi tempat singgah oleh nelayan dengan maksud untuk beristirahat atau berlindung dari cuaca buruk.  Pulau Lingayan dianggap sebagai tempat singgah yang nyaman sehingga para nelayan mulai membuat rumah non-permanen sebagai tempat menginap hingga berhari-hari dan akhirnya hidup menetap.  Inilah alasan pertama Pulau Lingayan memiliki penghuni disamping karena memiliki vegetasi alami seperti pohon kelapa, pisang, ubi kayu, pohon mangga dan vegetasi pantai seperti pohon bakau, padang lamun dan terumbu karang yang dapat mendukung keberlangsungan hidup.

Pulau Lingayan berkembang menjadi kampung dan secara administratif masuk dalam wilayah Dusun VI (Jalejje) Desa Ogotua Kecamatan Dampal Utara Kabupaten Toli-Toli dengan batas - batas wilayah sebagai berikut :

  • Bagian Utara berbatasan dengan Laut Sulawesi (Negara Malaysia).
  • Bagian Barat dengan Laut Sulawesi (Negara Indonesia).
  • Bagian Timur berbatasan dengan daratan Desa Ogotua Pulau Sulawesi (mainland) dan
  • Bagian Selatan berbatasan dengan Teluk Dampal Kecamatan Dampal Utara daratan mainland.
Secara geografis pulau ini terletak pada titik koordinat  000 58” 46 LU dan 1200 14” 28 BT dengan luas ± 140,40 Ha dan panjang garis pantai 7,075 Km (Bappeda Sulteng, 2012).  Posisi ini menempatkan Pulau Lingayan sebagai pulau terluar Indonesia dimana wilayah perairannya berbatasan langsung dengan wilayah perairan Malaysia.

Jarak antara Pulau Lingayan dan daratan Desa Ogotua yaitu + 3 mil laut atau + 5,4 km.  Jarak yang cukup dekat ini, menjadikan akses ke Pulau Lingayan cukup baik.  Interaksi antara penduduk di Pulau Lingayan dengan Desa Ogotua cukup kuat dengan indikasi tingginya intensitas lalu lintas perahu dari dan ke pulau setiap harinya atau lebih pada hari-hari pasar (Rabu dan Sabtu).

Moda transportasi laut yang digunakan untuk mencapai pulau yaitu perahu motor tempel (katinting) berkapasitas mesin 5,5 – 13,5 pk ber-merek Yamaha yang dimiliki oleh penduduk baik yang berada di Pulau Lingayan maupun daratan Desa Ogotua.  Paling banyak jenis perahu yang digunakan berbentuk perahu ‘Sandeng’ yaitu jenis perahu tradisional Suku Mandar.  Fungsi utama dari perahu motor digunakan untuk menangkap ikan sehingga belum ada tranportasi khusus melayani aktivitas penyeberangan.  Bagi para pengunjung yang akan ke Pulau Lingayan dapat memanfaatkan jasa perahu para nelayan dengan imbalan sukarela.

Lingayan terdiri atas 3 kampung yang dinamai sesuai dengan suku asal penduduk yang mendiami, yaitu :

  1. Kampung Dondo atau Kampung Tanjung yang terletak di sebelah utara pulau yang didiami oleh mayoritas penduduk berasal dari Suku Dondo (Kabupaten Toli-toli Provinsi Sulawesi Tengah).
  2. Kampung Bugis atau Kampung Tengah yang terletak di tengah pulau dan didiami oleh mayoritas penduduk berasal dari Suku Bugis (Provinsi Sulawesi Selatan).
  3. Kampung Mamuju yang terletak di sebelah selatan pulau yang didiami oleh mayoritas penduduk yang berasal dari Suku Mandar (Mamuju-Provinsi Sulawesi Barat).
Suku-suku yang mendiami Pulau Lingayan masih terikat kuat dengan asal daerah mereka yang ditunjukkan dengan rutinitas ‘pulang kampung’ pada saat hari-hari raya keagamaan atau acara-acara kekeluargaan seperti pernikahan, naik haji dan lainnya.

Pulau Lingayan memiliki potensi sumberdaya pesisir dan laut seperti hutan mangrove, terumbu karang, lamun, dan potensi sumberdaya ikan pelagik dan karang.  Selain itu, potensi sosial seperti interkasi sosial yang baik diantara masyarakat.

Hanya saja, pembangunan belum banyak menyentuh pulau lingayan, penduduk pulau memiliki tingkat kesejahteraan yang rendah, pendidikan yang rendah, tidak adanya aktivitas ekonomi masyarakat dan terlihat indikasi aktivitas illegal fishing (pembiusan dan bom ikan) dan pemanfaatan SD pesisir dan laut yang bersifat destructive.  Selain itu, semua proyek-proyek pemerintah yang digulirkan menunjukkan kegagalan karena tidak disertai proses pembinaan lanjut*. 

Tidak ada komentar:

KEPATUHAN DAN KETAATAN DALAM SINERGITAS KERJA MENGHAPUS KEMISKINAN

Oleh. Dr. Mohammad Saleh N. Lubis, S.Pi, M.Si* Bulan Oktober dikenal sebagai momen kesejahteraan umat manusia, dikarenakan pada bulan ini di...